Teori - Teori Budaya

KARYA ILMIAH

ILMU BUDAYA DASAR

“Teori-teori Budaya”

  

 


 

 

Disusun Oleh: 

Nurul Diana Amelia

(21222487)

 

 

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI & BISNIS

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

2022/2023



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan pertolongan-Nya kami dapat menyelesaiakan karya ilmiah yang berjudul ‘Teori-teori Budaya”.

Tak lupa saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam mengerjakan karya ilmiah ini. Kami juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman yang membantu secara langsung dan tidak langsung.

Saya menyadari bahwa karya ilmiah ini masih memiliki banyak kekurangan, maka dari itu, saya bersedia menerima kritik dan saran dari para pembaca. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfat bagi pembaca sekalian.

 

 

Depok, 04 November 2022

 

  

Penulis



DAFTAR ISI

        KATA PENGANTAR

          DAFTAR ISI

          BAB I PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang

2.    Rumusan Masalah

3.    Tujuan Penelitian

  

BAB II PEMBAHASAN

1.    Pengertian Budaya

2.    Teori dalam Budaya

  

BAB III PENUTUP

Kesimpulan

SUMBER




BAB I

PENDAHULUAN


1. Latar Belakang

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Seseorang bisa berkominikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, sehingga membuktikan bahwa budaya bisa dipelajari. 

2. Rumusan Masalah

·      Apa pengertian dari budaya?

·      Apa saja teori dalam budaya? 

 

     3. Tujuan Penelitian

·      Mengetahui pengertian budaya.

·      Mengetahui macam teori budaya.






BAB II

PEMBAHASAN

 

1.      Pengertian Budaya

 

Budaya adalah pola-pola tingkah laku yang diturunkan secara sosial yang bekerja menghubungkan komunitas manusia dengan lingkungan ekologi mereka. Konsep budaya turun jadi pola tingkah laku yang terikat kepada kelompok-kelompok tertentu, yaitu menjadi "adat istiadat”atau "cara kehidupan" manusia. Di dalam budaya, karena subjeknya manusia, memungkinkan adanya perubahan. Perubahan kultural pada dasarnya adalah suatu proses adaptasi dan maksudnya sama dengan seleksi alam.

 

Pengertian budaya menurut para ahlli

1) Edward Burnett Tylor (1832-19721)

Menurut Tylor, kebudayaan adalah sistem kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian , moral, hukum, adat istiadat, kemampuan, serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

2) Bronislaw Malinowski (1884-1942)

Malinowski mendefinisikan kebudayaan sebagai penyelesaian manusia terhadaplingkungan hidupnya serta usaha untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sesuai dengan tradisi yang terbaik. Dalam hal ini, Malinowski menekankan bahwa hubungan manusia dengan alam semesta dapat digeneralisasikan secara lintas budaya.

3) Clifford Geertz (1926-2006)

Antropolog ternama dunia Clifford Geertz mengatakan kebudayaan merupakan sistem keteraturan dari makna dan simbol-simbol. Simbol tersebut kemudian diterjemahkan dan diinterpretasikan agar dapat mengontrol perilaku, sumber-sumber ekstrasomatik informasi, memantapkan individu, pengembangkan pengetahuan, hingga cara bersikap.

 

 

 

2.      Teori dalam Budaya :

 

Banyak ahli tentang ilmu budaya, ahli-ahli teori tentang budaya sebagai sistem ideasional harus dipilah-pilah lagi. Ahli-ahli itu antara lain Geertz, Goodenough, Levi-Strauss, Schneider, dan Iain-lain. Goodenough menggambarkan "budaya" sebagai satu sistemasi ideal dari dunia kognitifindividu. Satu sislemasi yang memungkinkan seorang peneliti luar untuk membuat tanggapankultural yang tepat sebagaimana yang diperlihatkan oleh penduduk native. Levi-Strauss melihat budaya sebagai sesuatu yang lembus melampaui aktor individu, bahkan dalam hal-hal tertentu melampaui batas suku bangsa. Tetapi "collective representation" menggambarkan dan mengungkapkan struktur dan proses pikiran individu, dan merupakan ciptaan kumulatif dari pikiran individu tersebut. Geertz mengambil makna (meaning) milik bersama sebagai dasar, yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan Schneider menyebutkan bahwa sebuah budaya dalam hal tertentu berada "dalam pada posisinya sendiri, bebas dari wujud-wujudnya yang kurang sempurna dalam pemikiran dan tindakan aktor pendukungnya". Budaya sebagai sistem ideasional seharusnya ditelusuri dan dipetakan dalam ungkapan-ungkapan mereka sendiri, tidak dalam ungkapan-ungkapan dari bidang sosial. Hal ini melahirkan aspek lain dalam paradoks utama sekitar symbol yang dimiliki bersama dan transendental ini. Setiap aktor memandang cara hidup masyarakatnya sebagai sesuatu yang eksternal, berada di luar dirinya. Kita punya pandangan tentang apa yang kita pahami sebagai permainan yang dimainkan oleh anggota masyarakat kita.


Teori Evolusi

Teori Evolusi dapat dikatakan sebagai induk sebagai induk dari semua teori dalam antropologi. Secara tidak disadari baik emplisit maupun eksplisit pemikiran evolusionisme mempengarihi cara berfikir banyak ahli. Ada dua situasi penting yang melatarbelakangi tulisan – tulisan para evolusionis pada abad ke-19 yaitu pergulatan kamum evolusionis untuk menegakkan suatu telaah naturalistik mengenai fenomena kultural, yang oleh Tylor disenut sebagai ilmu budaya. Cara utama yang diharapkan evolusionis yaitu untuk menegakkan suatu ilmu yang menunjukkan dengan sejelas – jelasnya bahwa budaya telah berkembang setapak demi setapak dalam langkah-langkah alami.

 

1)    Dalam bidang ilmu sosial paham evolusionisme diawali oelh pemikiran E.B Taylor (1832-1917), yang menjelaskan persamaan yang terjadi pada berbagai bangsa yang berbeda, Tylor berpendapat bahwa manusia memiliki kesatuan jiwa yang sama diantara semua umat manusia sehingga menemukan pemecahan yang sama terhadap persoalan yang sama sehingga mengalami pekembangan sejarah evolusi yang sama.

2)    Menurut Morgan perkembangan evolusi dibagi menjadi dua

·       Evolusi Unilinier : Evolusi yang terjadi melalui satu garis yang dominan.Masyarakat akan berkembang mengikuti tahap – tahap yang sama.

·       Evolusi Multilinier : pemikiran untuk menelaah perbedaan dan kemiripan budaya melalui perbandingan antara runtutan perkembangan yang parallel, khususnya pada wilayah – wilayah yang secara geografis jauh terpisah. Menurut Leslie A. White : Evolusi budaya terjadi karena adanya pirani manusia yang berkembang untuk berakomodadi terhadap alam dan budaya mengalami kemajuan.


2.     Teori Difusi

Pada awalnya teori difusi ditujukan untuk memahami difusi dari teknik -teknik pertanian, tetapi pada perkembangan selanjutnya teori difusi digunakan pada bidang-bidang lainnya secara lebih universal. Teori difusi inovasi dari Everret M. Rogers kemudian diformulasikan dalam sebuah buku pada tahun 1962 berjudl “Diffusion of Innovations”, dimana dalam perkembangan selanjutnya menjadi landasan pemahaman tentang inovasi, karakteristik inovasi, mengapa orang-orang mengadopsi inovasi, faktor- faktor sosial apa yang mendukung adopsi inovasi, dan bagaimana inovasi tersebut berproses diantara masyarakat. Difusi menekankan pada adanya persebaran (material dan non material) dari satu kebudayaan ke kebudayaan yang lain, dari satu orang ke orang yang lain, serta dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga kebudayaan itu sumbernya dari satu tempat yang kemudian berkembang dan menyebar ke tempat yang lain.


3.     Teori Fungsionalisme

Fungsionalisme adalah penekanan dominan pada antropologi khususnya penelitian   etnografis. Dalam fungsionalisme , kita harus mengeksplorasi ciri sistematik budaya yang artinya kita harus mengetahui bagaimana perkaitan antara institusi- institusi atau struktur -struktur suatu masyarakat sehingga membentuk suatu sistem yang bukat.Para fungsionalisme menyatakan bahwa fungsionalisme merupakan teori tetang proses kultural. Fungsionalisme sebagai perspektif teoritik dalam antropologi yang bertumpu pada analogi dengan organisme , artinya ia membawa kita memikirkan sistem sosial -budaya sebagai semacam organisme, yang bagian-bagiannya tidak saling berhubungan melainkan juga memberikan andil bagi pemeliharaan, stabilitas, dan kelestarian hidup”organisme”. Dengan demikian  dasar penjelasan fungsionalisme ialah asumsi bahwa semua sistem budaya memiliki syarat – syarat fungsional tertentu untuk memungkinkan eksitensinya atau sistem buday memiliki kebutuhan (kebutuhan sosial ala Radcliffe Brown atau bilogis individual ala Malinowski) yang semuanya harus dipenuhi agar sistem itu dapat bertahan hidup. Apabila kebutuhan ssitem fungsionalis itu tidak dipenuhi maka sistem itu akan mengalami disintegrasi dan “mati” atau akan berubah mejadi sisitem lain yang berbeda jenis. Fungsionalisme didasarkan pada pandangan yang melebihkan aspek sosial dan melihat bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari sosialisasi yang menentukan seperti apa tindakan sosialnya.

·       Fungsionalisme menurut Malinowski memandang istitusi dalam masyarakat (keluarga, politik, pendidikan, analog dengan organisme, dan setiap organ terintegrasi serta saling bergantung.

·       Fungsionalisme tidak untuk mengetahui asal – usul serta perkembangan suatu pranata, tetapi melihat apa fungsinya dalam konteks kehidupan masyarakat.

 

4.     Teori Struktural Fungsionalisme

Pernyataan parson mengenai teori fungsionalisme structural yang cenderung berkonsentrasi pada struktur  – struktur masyaarkat dan dan hubungan mereka satu sama lain. Struktur – struktur itu dilihat saling mendukung dan cenderung ke arah keseimbangan dinamis. Penekanannya terletak pada cara pemeliharaan tatna antara berbagai unsur masyarakat. Parson tidak hanya memerhatikan sistem sosial dalam dirinya tetapi juga hubungan -hubungannya dengan sistem-sistem tindakan lainnya, khususnya sistem budaya dan kepribadian. Akan tetapi pandangan dasarnya mengenai hubungan-hubungan intersistemik yang sama dengan pandangan mengenai relasi-relasi intrasistemik, yakni mereka didefinisikan oleh kohesi, consensus, dan ketertiban. Dengan kata lain, struktur-struktur sosial yang beraneka ragam melaksanakan berbagai fungsi positif untuk satu sama lain.

 


 BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Setiap masyarakat dari suatu negara pasti memiliki budaya, demikian juga para individu yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Secara umum dapat dikatakan bahwa dalam kaitan budaya, baik anak-anak, remaja hingga orang dewasa menilai bahwa ia memiliki peranan dalam pelestarian budaya bangsanya.

Dengan begitu mahasiswa juga memiliki peran penting dalam perkembangan budaya indonesia. Indonesia merupakan negara yang penuh dengan keanekaragaman budaya dan kemajemukan sehingga disebut sebagai masyarakat Bhineka Tunggal Ika yang memiliki makna bahwa meskipun masyarakat Indonesianya memiliki perbedaan namun tetap satu jua. Keberagaman yang ada di Indonesia menyebabkan Indonesia memiliki banyak konflik, banyaknya budaya juga akan menimbulkan kesulitan dalam melestarikannya, khususnya saat ini dalam era globalisasi.




SUMBER 

https://blog.unnes.ac.id/wiwinwahyu99/2017/09/24/teori-teori-budaya/ 

https://www.studocu.com/id/document/universitas-negeri-semarang/pendidikan-sejarah/teori-teori-budaya/36481912 

https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya 

https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5725690/5-pengertian-kebudayaan-menurut-para-ahli#:~:text=Pengertian%20Budaya%20Menurut%20Para%20Ahli&text=Menurut%20Tylor%2C%20kebudayaan%20adalah%20sistem,oleh%20manusia%20sebagai%20anggota%20masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Budaya Tari Kabupaten Banyumas